Membicarakan sejarah Indonesia, tak lengkap rasanya kalau tidak menyebutkan nama Kahar Muzakkar. Dialah tokoh Islam yang terkesan antagonis dan pemberontak. Namun sesungguhnya ada tiga kekuatan ideologi yang tak dapat dipisahkan dalam dirinya, yaitu Nasionalis, Islam dan Marxisme.
Demikian hal ini diungkapkan dalam buku Tragedi Patriot dan Pemberontakan Kahar Muzakkar yang ditulis Syafaruddin Usman Mhd. Buku terbitan Narasi ini mengulas, falsafah hidup Kahar yang membentuk karakter watak khas dalam kehidupannya, termasuk perannya dalam pemberontakan di Sulawesi Selatan awal tahun 1952.
Kahar pun telah melewati masa-masa sulit dalam memperjuangkan nasib kaum terpinggirkan. Ia pernah dibuang dari Luwu, Sulawesi Selatan karena serangannya terhadap sistem feodal di sana. Kahar juga menentang watak feodal lokal Sulawesi Selatan dan melarang para pengikutnya memakai gelar bangsawan.
Di dalam gaya hidupnya, terdapat unsur-unsur apa yang dianggap ideologi atau praktik Marxisme. Ia pun mendasar pada falsafah agama, tidak hanya atas nama agama Islam. Dalam kesehariannya pun Kahar hidup sederhana.
Buku ini memaparkan sepak terjang Kahar Muzakar dan Darul Islam secara bijak, berikut latar belakangnya. Penulis bahkan mengungkapkan, pemberontakan yang dilakukan oleh Kahar Muzakar adalah sebuah gerakan sejarah yang memiliki suatu sebab dan itulah yang menyebabkan gerakan itu sendiri meletus, yaitu sebagai suatu usaha mendirikan kebebasan.
Lalu,apa saja sikap yang telah diambil Kahar? Sampai-sampai Soeharto, yang kala itu belum menjabat menjadi Presiden kedua RI mengatakan,” Kahar Muzakkar tidak pernah memegang janjinya, dan ia hanya akan menimbulkan keresahan di daerah” Temukan segera jawabannya dalam buku setebal 158 halaman ini.
Penulis berharap, kehadiran buku ini menjadi khazanah perbendaharaan pustaka Indonesia dalam mengenal nama-nama yang menjadi noktah, hitam atau putih, di dalam lembaran sejarah kontemporer Indonesia. Selamat membaca!





















